header www.zulmiati.com

Cara Meraih Kebahagiaan Sejati

2 komentar
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bahagia…. Rasa yang dicari dan didamba oleh banyak insan manusia. Berbagai upaya pun dilakukan agar bahagia?

Apalagi saat kondisi sekarang ini, pandemi, semua serba dibatasi, banyak hal di luar ekspektasi... Banyak yang bilang stress dan berusaha mencari cara agar bahagia… 

Apa sih sebenarnya bahagia itu? dan bagaimana cara meraih kebahagiaan sejati? Yuk kita cari tahu bareng kawans…

Aku mencoba menarasikan kembali hasil pencarianku tentang Bahagia dari buku “Tausiyah Zaman Now – Bahagia dalam Naungan Al Qur’an dan Sunnah” karya Ustadz Adi Hidayat ya kawans.. 

Seperti judulnya bahwa Tausiyah Zaman Now, jadi buku ini sangat dekat dengan keseharian kita. Bukunya juga tipis dan ringan untuk dibaca. Namun, bernilai tinggi untuk diamalkan. Masya Allah..

Arti Bahagia



Dari flyer kita bisa melihat bahwa makna Bahagia sangat beragam. Definisi bahagia bergantung pada situasi dalam memaknainya. 

Makna bahagia bagi seorang sastrawan berbeda dengan bahagia bagi seorang pengusaha. Bahagia bagi sastrawan terikat pada makna puitis. Bahagia bagi pengusaha terukur dari harta dan kedudukan. 

Definisi bahagia bagi seorang Olahragawan pun berbeda, terkait aktivitas yang ditekuninya. Makna bahagia sangat relative, meskipun Kamus Besar Bahasa Indonesia mendeskripsikannya secara definitif. Lalu apa arti bahagiamu kawans?

Bahagia itu Sederhana

Sering kita mendengar ungkapan bahagia itu sederhana. Bagi pecinta kopi, Bahagia itu sederhana : cukup secangkir kopi, Anda hadir dengan Kebahagiaan.

Bagi para emak di rumah pun Bahagia itu sederhana -“Melihat anak-anak sehat dan ceria”, hehe. Ternyata makna bahagia sederhana ini tidak berlaku umum, bahagia antara si A dan si B berbeda.

Lalu adakah kebahagiaan sejati? Kebahagiaan yang bisa diraih setiap orang?

Bahagia dalam Naungan Al Qur’an dan Sunnah

Kawans, bukankah kalau kita ingin mengetahui sesuatu kita bertanya pada pembuatnya?

Misal ingin mengetahui tentang seluk beluk suatu pesawat, maka kita akan bertanya pada insinyur pembuatnya. Insinyur pembuatnya yang mengetahui secara detail pesawat tsb.

Begitupun manusia, segala hal yang dibutuhkan dan dirasakan manusia hanya diketahui oleh Penciptanya, yakni Allah SWT. 

Maka jika ingin mengetahui segala hal terkait manusia, maka bertanyalah pada Sang Pencipta.

Al Qur’an sebagai Firman Allah SWT merupakan petunjuk hidup manusia. Pedoman yang menyajikan solusi segala permasalahan hidup manusia.

Bahagia itu sederhana dengan menjadikan Al Qur’an sebagi pedoman.
Rasulullah SAW sebagai suri teladan kita, telah mempraktekkan langsung Al Qur’an sebagai pedoman di lingkungan masyarakat.

Hingga lahirlah al-madinah al- munawarah, kota penuh cahaya, karena kehidupan umatnya begitu membahagiakan.

Dengan berpedoman Al Qur’an lahirlah umat yang meninggalkan kejahiliyahan dan terangkat martabatnya hingga mengungguli imperium romawi dan Persia.

Praktek Rasulullah SAW dalam mengamalkan Al Qur’an sebagai pedoman disebut dengan Sunah. 

Sunah inilah yang menjadi penjelasan detail Al Qur’an dan sumber keteladanan. Al Qur’an dan Sunah adalah referensi abadi untuk meraih kebahagiaan di setiap zaman.

Ragam kebahagiaan dalam Al Qur’an


Dalam Al Qur’an kebahagiaan dibagi menjadi dua bagian, yaitu abadi dan semu.

Kebahagiaan Abadi Akhirat

Kebahagiaan abadi adalah ketika manusia memasuki surga di akhirat kelak. Seperti dijelaskan di QS Hud ayat 105, Rasa bahagia dalam ayat ini diungkapkan dengan kata sa’id, dalam suasana akhirat. 

Seakan menegaskan bahwa kebahagiaan abadi hanyalah di akhirat, bukan di dunia. Dijelaskan lebih detail dalam QS Hud ayat 108 bahwa tempat kebahagiaan adalah surga.



Dasar kebahagiaan yang diuraikan Al Qur’an nampak begitu sederhana, yakni hadirnya nikmat yang abadi, tiada terputus. 

Seolah mengesankan bahwa kebahagiaan yang datang dan pergi adalah kebahagiaan yang semu. Dalam QS At Taubah 72 dijelaskan bahwa kebahagiaan abadi yang diraih adalah kekal selamanya di surga. 

Dalam paparan ayat lain bahkan diterangkan bahwa nikmat abadi tidak lagi diraih dengan usaha, cukup dinikmati saja. 

Tidak perlu kerja keras, kelelahan, gelisah, bahkan kepayahan dalam mewujudkannya. Yang ada hanyalah pelayanan maksimal hingga melebihi titik kepuasaan lahir dan batin. 

Itulah kebahagiaan sejati. Bisa dilihat dalam paparan QS Al Hajj ayat 23; QS Muhammad ayat 15; QS Al Waqi’ah ayat 15-24 dan masih banyak lagi penjelasan lainnya.

Nikmat akhirat lebih utama dibanding kesenangan dunia, seperti yang dijelaskan dalam QS Al Huda ayat 4-5.

Kebahagiaan Semu Dunia

Kebahagiaan dunia tidak abadi, liku kehidupan dunia adalah kesenangan semu yang (kadang) menipu, seperti yang dijelaskan QS Ali Imran ayat 185 :
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan (semu) yang menipu”
Kebahagiaan dunia sifatnya semu, terlihat seperti fatamorgana. Memantulkan keindahan namun sirna dalam kepemilikan. 

Kebahagiaan di dunia terkadang terasa sangat singkat. Baru saja bahagia, tetiba merasa nestapa. Kebahagiaan dunia tidak abadi karena terputus dengan kematian atau sekedar datangnya ujian.

Dalam Al Qur’an ayat “kesenangan dunia” dibuka dengan pengingat kematian, untuk menekankan bahwa seluruh kesenangan itu hanyalah sementara. 

Seperti Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 185, dibuka dengan pengingat kematian, agar mencegah manusia tidak larut dalam nikmat semu dunia. Lalu mengajak manusia untuk menyiapkan bekal akhirat agar meraih kebahagiaan sejati di surga.

Dalam surat Al Hadid ayat 20 dijelaskan lima hal utama yang membuat manusia larut dalam kesenangan semu dunia, yaitu :



1. Permainan.

Bukankah saat bermain kita merasa riang dan bahagia? Bermain Hp, Game, bola, dsb kita merasa bahagia. 

Segala yang kita kerjakan dan menghadirkan permainan yang nyaman, akan merasa bahagia.

 Namun, bahagia yang sementara, karena jika permainan usai, maka hilanglah kebahagiaan.

2. Kesibukan yang melalaikan.

Banyak manusia merasa bahagia dengan aktifitasnya, hingga lalai meniti surga. Sibuk bekerja di kantor, belajar di kampus, bertransaksi di pasar,dsb. Ketika aktifitasnya usai, maka sirna pula kebahagiaannya.

3. Perhiasan.

Segala hal yang memberikan keindahan tampilan, umumnya menghadirkan rasa bahagia. 

Mempunyai Handphone keluaran terbaru, mobil mewah, jam tangan branded. Apalagi bagi perempuan, mengenakan kalung, cincin, gelang baru tentu bahagia. Saat melekat tentu bahagia, namun begitu hilang, maka pupuslah kebahagiaan.

4. Saling berbangga.

Peningkatan status sosial atau pengetahuan membuat orang bahagia. Kedudukan yang terhormat, promosi jabatan membuat bahagia. Tidak sedikit yang mengalami post power syndrome ketika memasuki masa purna.

Demikian juga bagi para pelajar, bangga dengan raihan rangking dan nilai. Apalagi ditambah dengan gelar kuat yang melekat. 

Namun, momen itu tidak berselang lama, ketika terganti dengan generasi yang lebih baik. Maka pudarlah kebahagiaan.

5. Memperbanyak harta dan keturunan.

Ini kebahagiaan yang banyak manusia larut di dalamnya. Berlomba memperbanyak harta dan keturunan.

Saat harta banyak, maka bahagia menyeruak. Namun, ketika berkurang atau hilang maka kebahagiaan pun ikut sirna.

Begitupun dengan keturunan, menyeruak bahagia ketika buah hati hadir. Perbincangan akan anak seringkali menyajikan kesenangan dan harapan untuk menambah jumlah. 

Namun, akan tiba saat ajal menjemput, maka kita sadar bahwa hanya titipan, akan kembali pada pemiliknya.

Kebahagiaan dunia hanya semu dan sementara. Kebahagiaan sejati hanya dapat diraih di akhirat. Kebahagiaan yang sifatnya luas tanpa batas, melekat abadi pada setiap aktifitas. 

 Lalu bagiamana cara meraih kebahagiaan sejati?

Pintu-pintu Kebahagiaan

Al Qur’an memberikan pedoman bagaimana jalan ikhtiar agar bisa meraih kebahagiaan sejati di akhirat. 

Bahkan, bisa jadi percikan kebahagiaan itu kita dapati di dunia, walau tidak akan pernah sama dengan aslinya. Berikut pintu-pintu kebahagiaan yang dijelaskan dalam Al Qur’an :

1. Pintu Pertama : Para Pemilik Iman

Dalam QS Al Mukminun ayat 1 ditegaskan bahwa para pemilik iman pasti akan meraih kebahagiaan. Iman merupakan syarat pertama yang harus diraih jika ingin bahagia dalam menjalani seluruh aktifitas.

Kita bisa memperhatikan transformasi masyarakat jahiliyah menjadi generasi khairu ummah, ketika Rasulullah menanamkan kalimat iman, hingga menghujam ke jiwa mereka dan mengajarkan esensinya.

Lihatlah! Ada orang yang justru bahagia saat memberi walau dirinya begitu membutuhkan!

Ada yang bahagia menahan lapar demi bisa menjamu tamu! Bahagia ketika menyedekahkan seluruh hartanya? Bahkan gelisah ketika masih menyisakannya?

Iman memberi arahan dan menanamkan ketentraman bagi pemiliknya.
Kemelekatan iman pada jiwa membuat pemiliknya memandang persoalan dengan visi bahagia. 

Bila ada insan beriman belum meraih kebahagiaan seperti umat terdahulu, patut diduga ada yang belum benar dengan fungsi imannya. Bisa jadi terhambat oleh maksiat ataupun sikap duniawi yang teramat sangat.

Bila ingin menggali nilai keimanan serta melatihnya supaya melahirkan kebahagiaan, maka ada pintu selanjutnya yang harus dibuka.

2. Pintu Kedua : Shalat

Dalam Surat Al A’la ayat 14-15 ditegaskan bahwa shalat merupakan pintu penguat iman yang melahirkan kebahagiaan. Dalam Al Qur’an dijelaskan tentang manfaat shalat bagi kemudahan dan kebahagiaan hidup:

a. Menghadirkan ketenangan, Termakna dalam Surat Thaha ayat 14 dan Ar Ra’du ayat 28. Dasar utama kebahagiaan adalah ketenangan

b. Menghadirkan solusi dan memudahkan rezeki, dijelaskan dalam surat At Thalaq ayat 2-3 serta surat AL Baqarah ayat 2-3.

c. Mencegah perbuatan buruk, sesuai penjelasan QS Al Ankabut ayat 45. Diantara faktor yang menghadirkan bahagia adalah sifat baik dan mulia. Orang cenderung merasa bahagia ketika berlaku baik dan dimuliakan orang lain.

d. Mempercepat terkabulnya do’a, Surat Ali Imran ayat 38-39 menjelaskan bahwa shalat yang sempurna mempercepat terkabulnya do’a, Pengabulan do’a merupakan hal yang menghadirkan kebahagiaan.

3. Pintu Ketiga : Meninggalkan Hal yang Tidak Berguna

Pintu selanjutnya yang menguatkan kebahagiaan adalah menjauhi segala hal yang tidak bermanfaat. Seperti yang dijelaskan dalam surat Al Mu’minun ayat 3 serta sabda Rasulullah SAW :

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang ialah (sikap) meninggalkan segala yang tidak bermanfaat” (HR Bukhari)

Orang beriman tidak akan terlarut dalam kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti begadang tanpa tujuan, gossip, canda berlebihan, dsb. Semua aktifitas penuh manfaat adalah kebahagiaan sejati, tidak sekedar mencari kesenangan yang tidak pasti.

4. Pintu Keempat : Menunaikan Zakat

Salah satu tanda keimanan hakiki adalah sikap memberi, yang termasuk sumber kebahagiaan sejati. Dalam Al Qur’an diperintahkan ber zakat, amalan yang melatih sikap berbagi sekaligus menanamkan kebahagiaan sejati.

Zakat selain dapat menumbuhkan sikap berbagi juga mengembangkan nilai-nilai kebaikan yang menghadirkan kebahagiaan. 

Orang yang gemar berzakat cenderung disukai dan dijaga oleh lingkungan sekitar. Inilah tambahan yang menghadirkan kebahagiaan karena berada pada lingkungan yang menentramkan.

5. Pintu Kelima : Menjaga Kehormatan

Salah satu ciri utama insan beriman adalah menjaga kehormatan diri. Orang yang mampu menjaga syahwatnya hanya pada pasangan halalnya, akan menjadikan rumah tangga sakinah mawadah warahmah. 

Dalam Surat Asy Syam ayat 9 disebutkan bahwa orang yang mampu mengendalikan nafsu adalah insan yang bahagia.

6. Pintu Keenam : Menunaikan Amanat dan Menepati Janji

Dalam surat Al Maidah ayat 1 ditegaskan pada para pemilik iman untuk menepati janji. Seorang yang sudah menunaikan amanat atau menepati janji pasti akan merasakan ketenangan. Inilah kebahagiaan yang dirasa.

Sikap mulia diatas merupakan indikator keimanan seseorang sekaligus muara seorang hamba di surga kelak. 

Semoga kita termasuk hamba yang bisa meraih kebahagiaan sejati dengan membuka pintu-pintunya. Saat semua pintu dibuka dan dipraktekkan, maka percikan kebahagiaan akan menetes di bumi dan mengalir menuju firdaus sebagai puncak kebahagiaan tertinggi.

Related Posts

2 komentar

  1. Aamiin, smoga Allah mampukan kita smua meraih pintu² kebahagiaan yg kekal ya mba..

    BalasHapus

Posting Komentar