header www.zulmiati.com

Inilah Do'a Untuk Segala Penyakit

10 komentar
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Saat ini, setiap membuka media sosial atau bahkan whatsapp banyak berita yang kurang menyenangkan terkait pandemi covid-19. 

Berita lonjakan kasus, rumah sakit penuh, kawan-tetangga-kerabat silih bergantian terconfirm positif, bahkan sampai berita duka. 

Dan ketika kita sudah berikhtiar semaksimal yang kita mampu untuk mencegah penyakit ini. Namun, qadarullah penyakit ini menghampiri kita atau keluarga terdekat kita. Adakah do'a yang bisa kita panjatkan untuk memohon kesembuhan? Do'a untuk segala penyakit..

Masya Allah jawabannya ternyata ada di Alqur'an. Saat saya buka akun instagram menemukan bahasan tentang Memohon Kesembuhan Kepada Allah di akun ig ustadz adihidayatofficial. 

Mendengar kajian tersebut bagaikan menemukan oase di tengah padang pasir. 

Saat diri ini sedang merasakan banyak emosi hadir, khawatir sampai parno, sedih, bingung, dan cemas, maka mendengar ceramah tsb menentramkan jiwa. Qadarullah suami terkonfirm reaktif antigennya. Mohon do'a terbaik nya ya kawans..

Rahasia Penting dalam Al Qur'an

Disampaikan oleh Ust. Adi Hidayat di video tsb bahwa ada rahasia penting dalam Al Qur'an, ketika terkadang Allah menguji kita dengan keadaan sekitaran sampai pada batas manusia kesulitan mengatasinya. 

Diantara rahasianya adalah supaya kita menyadari bahwa kita itu hamba. Hamba yang tak punya kuasa atas terjadinya peristiwa atau kondisi. 

Menyadari diri sebagai hamba, membuat kita bermohon kepada Sang Pencipta, yakni Allah SWT. Rumus ini bisa ditemukan di QS ke-6, surat Al An'am ayat 42 :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَٰهُم بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Artinya : "Dan Sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati."

Ah iya, terkadang saat diri ini sedang didera kesulitan (apa pun itu, entah ekonomi, bisnis, keluarga atau penyakit), seringkali kita merasa paling nelangsa sendiri. 

Padahal nyatanya, umat-umat terdahulu pun diuji, bahkan para Rasul dan Nabi pun diuji oleh Allah SWT.

Menurut Ust. Adi Hidayat ada hikmah yang Allah titipkan atas segala ujian yang terjadi, yaitu supaya kita mengakui dan menyadari diri sebagai Hamba.

 Jangan sampai terlena dengan kenikmatan dunia, sebagai hamba, pasti akan berpulang kepada Sang Pencipta.

 Maka memohonlah pada Allah, meminta solusi kepada-Nya. Kadang-kadang butuh situasi yang sulit untuk meyakinkan dan menyadarkan diri kita sebagai hamba.

Menyadari bahwa Allah Maha Pemberi, Allah Maha Penyembuh, Allah Maha solusi. Maka dekati Allah, melakukam amalan yang Allah ridhoi, seperti bangun shalat tahajud, membaca Al Qur'an, perbanyak zikir, dan do'a bersama-sama. Menjaga keterhubungan kita dengan Allah SWT.

Logikanya kan ya, kalau kita deket dengan seorang pejabat atau orang tua kita. Maka ketika kita meminta sesuatu pasti mereka akan mudah memberikannya.

 Begitu juga menjaga keterhubungan diri dengan Allah, dekatnya diri sama Sang Maha Pencipta, maka ketika diri meminta, maka sangat mudah bagi Allah SWT mengabulkan do'a kita. Kalau kita ga dekat, terus tiba-tiba minta tolong, rasanya kan beda ya,,

Dan merefleksikan kejadian suami yang antigennya reaktif ini, membuat saya semakin sadar tentang bahwa kuasa manusia ada di ikhtiar dan hasil adalah kehendak Allah SWT

Jika dilihat dari ikhtiar manusia, skrining di kantor suami itu sungguh sangat ketat.

Sebelum berangkat, semua karyawan harus melakukan tes antigen, sebagai syarat juga mereka boleh melakukan perjalanan dengan moda transportasi umum (kerata api dan pesawat). 

Dan bagi yang belum melakukan tes antigen, sesampai di hotel untuk karantina, mereka harus tes antigen dulu. Sebelum naik ke kapal, mereka harus karantina di hotel selama seminggu. Di hari ketiga karantina mereka di tes PCR.

Qadarullah hasil tes PCR ada 11 yang positif, langsung ditindaklanjuti dengan tes PCR ulang, dirujuk ke rumah sakit untuk yang bergejala, dan tambahan hari karantina bagi yang tidak bergejala.

 Tracing dilakukan, untuk close contact dilakukan tes PCR lagi. Jadi menurut perhitungan manusia yang naik kapal itu sudah bersih. Di kapal pun tetap berlaku prosedur kesehatan, pakai masker, jaga jarak,dsb.

Dan ketika sudah berjalan aktivitas di kapal hampir 2 minggu, ada salah satu anak buah di tim suami saya yang meriang. Suami menyarankan untuk periksa ke klinik. 

Dan subhanallah ternyata antigen reaktif, langsung tracing dan ada 2 yang reaktif. Saat itu suami masih negatif. Hari berikutnya di tes antigen lagi, qadarullah suami reaktif. 

Dan sampai sekarang tiap hari diperlakukan tes antigen. Sampai hari kemarin tanggal 25 Juni 2021, terkonfirm 8 yang reaktif.

Di titik ini semakin sadar akan Kuasa dan Kehendak Allah SWT. Dan sadar posisi diri sebagai hamba adalah merspon kehendakNya dengan respon terbaik.

 Supaya bisa mengambil respon terbaik, maka menjaga keterhubungan dengan Allah SWT itu yang utama. Agar Mata, Hati dan Akal kita dibimbing Allah untuk bisa mengambil hikmah dan pelajaran.

Malah jadi curhat, ah lanjut ke video ust Adi Hidayat ya,,,

Kisah Nabi Ayyub a.s - Sabar Tiada Batas

Di video ceramah tsb Ust Adi Hidayat mencotohkan keteladan kisah Nabi Ayyub a.s. dalam menghadapi cobaan penyakit.

Dan ingatan saya pun melayang, mengingat momen saat sebelum tidur membacakan buku 24 Nabi & Rasul "Sabar Tiada Batas" kisah Nabi Ayyub a.s. pada anak-anak. 

Masya Allah, kisah kesabaran nabi Allah ini sungguh luar biasa. Saya paling ingat scene percakapan Nabi Ayyub as dengan istrinya Laya.

 Saat penyakit Nabi Ayyub as bertambah parah dan mereka dikucilkan oleh masyarakat. 

Laya sang istri pun ditolak dan diusir saat mencari pekerjaan, hingga Laya menjual rambut indahnya untuk membeli makanan.

 Saat di titik kesedihan itulah, iblis menghasut Laya untuk meninggalkan suaminya.

Laya sang istri yang setia, bertanya pada suaminya "Suamiku, Engkau adalah seorang Nabi. Kalau kau berdo'a untuk kesembuhanmu, pasti Allah akan mengabulkan permintaanmu, kan?'

Dan jawaban Nabi Ayyub as, sungguh mencengangkan bagi saya. Beliau menatap istrinya lekat seraya bertanya "Sudah berapa lama kita hidup dalam kesenangan?

Laya pun menjawab cepat "Tujuh puluh tahun."

"Sungguh malu rasanya jika aku berdo'a pada Allah meminta penderitaan ini segera berakhir. Mengingat masa cobaan ini belum seberapa dibandingkan dengan masa kita bersenang-senang. Sepertinya engkau telah termakan hasutan iblis" Ujar Nabi Ayyub a.s. Kecewa.

Merefleksikan ke diri ini, ah masya Allah benar sekali. Cobaan kesulitan yang ternyata sangat kecil dibanding kesenangan yang kita peroleh ini terkadang membuat terpuruk, nestapa dalam kesedihan. 

Padahal jika kita mau merubah zoom in kita atas sebuah kejadian, merubah sudut pandang diri, maka akan terlihat makna yang berbeda. 

Seperti kondisi saya saat ini, suami terkonfirm antigen reaktif. Maka, jika melihat dengan sudut pandang lain, ada banyak hal yang bisa saya syukuri.

Alhamdulillah anak-anak dan keluarga lain masih sehat wal'afiat. Alhamdulillah suami bergejala ringan. Alhamdulillah suami bisa isolasi mandiri di rumah.

 Alhamdulillah Allah masih memberi kecukupanan kelapangan rezeki untuk memenuhi kebutuhan kami. Alhamdulillah masih diberikan nikmat bisa ibadah dengan tenang. Alhamdulillah...alhamdulilllah,,,dan masih banyak Alhamdulillah atas banyaknya nikmat yang tak terhitung.

Membayangkan kondisi di Palestina, yang untuk ibadah saja mereka sampai membawa senjata untuk melindungi diri. Maka, jangan sampai kufur nikmat diri ini,hiks..

Nabi Ayyub berdo'a ketika penyakitnya sudah mengganggunya untuk ibadah, dan do'anya pun sungguh indah.


Do'anya diabadikan dalam Surat Al Anbiya ayat 83 :
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Arinya : Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".

Dan inilah do'a untuk segala penyakit yang dianjurkan untuk dibaca oleh ust Adi Hidayat di video ceramahnya. 

Dan ingatlah -wahai Rasul- tentang kisah Ayub -'alaihissalām-, tatkala ia berdoa kepada Tuhannya saat ditimpa musibah seraya berkata,

 "Wahai Tuhanku! Sungguh aku telah ditimpa suatu penyakit, dan kehilangan keluargaku, padahal Engkaulah Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang, maka hilangkanlah penyakit dan musibah yang menimpaku ini." (Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 83).

Ust Adi H menuturkan, di saat kondisi kita terserang penyakit covid atau lainnya, maka solusinya adalah kembali ke Allah, supaya tenang jiwa kita. Melakukan shalat malam dan minta kepada Allah dalam sujud kita sambil membaca do'a Nabi Ayyub a.s. tsb.

Dan jawaban Allah atas do'a Nabi Ayyub a.s. pun sungguh indah, terekam dalam surat Al Anbiya ayat 84 :


فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَٰبِدِينَ


Terjemah Arti: "Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah."

Ust Adi menjelaskan, bahwa Allah menjawab do'a Nabi Ayyub a.s. dengan menyembuhkannya, menyingkap semua rasa sakitnya. 

Bukan hanya sembuh, tapi disingkap rasa sakit semuanya, seakan-akan tidak ada rasa sakit di badan bahkan di jiwa. Terkadang ada orang yang sehat badannya, namun sakit hatinya.

Dan yang paling menarik kata Ust Adi Hidayat adalah ujung dari ayat 84 ini, bahwa Ini adalah pengingat setiap hamba, jika kita berzikir seperti Nabi Ayyun a.s. , maka Allah akan menyembuhkan kita seperti Allah menyembuhkan Nabi Ayyub a.s.

Yuk amalkan do'a untuk segala penyakit ini, do'a Nabi Ayyub a.s. saat menghadapi cobaan penyakit. Yang mau nyimak video ceramah ust Adi Hidayat, ada dibawah ini ya.. Semoga bermanfaat.


Referensi:
https://tafsirweb.com/2166-quran-surat-al-anam-ayat-42.html
https://tafsirweb.com/5595-quran-surat-al-anbiya-ayat-83.html
https://tafsirweb.com/5596-quran-surat-al-anbiya-ayat-84.html
Muakhir, Ali;Wahab,Abdul. 2016. Sabar Tiada Batas : Kisah Nabi Ayyub as dan Syu'aib as.Bandung : Sygma CMC.

Related Posts

10 komentar

  1. Masya Allah, sungguh mengedukasi dan menguatkan kita sebagai pembaca. Apalagi diingatkan kembali dengan kesabaran Nabi Ayyub A.S. Semoga suaminya dijaga Allah,segera pulih. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya robbal'alamin,, terima kasih do'anya pak..

      Hapus
  2. Alhamdulillah ... Seperti mendapat air di padang tandus. Begitu menyejukkan. Makasih share pengalamannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika bermanfaat bunda...
      Terima kasih kembali bun...

      Hapus
  3. Masya Allah, poin "Sungguh malu rasanya jika aku berdo'a pada Allah meminta penderitaan ini segera berakhir. Mengingat masa cobaan ini belum seberapa dibandingkan dengan masa kita bersenang-senang." itu membuat saya tersadar bahwa taraf keikhlasan manusia masih terbatas,terutama saya. Seperti mendapatkan kesadaran kembali atas setiap keadaan yang menimpa. Terima kasih telah diingatkan melalui ulasan ini, Kak Zulmi. Semoga suami dan keluarga serta kerabat yang sedang diuji oleh Allah dengan sakit,segera dipulihkan dan diikhlaskan dalam menjalani.. aamiin.. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya robbal'alamin...
      Makasih do'anya mba..
      Semoga kita semua selalu dlm lindungan dan penjagaan Allah SWT

      Hapus
  4. ilmu yang bermanfaat sekali ... pencerahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya robbal'alamin, makasih pak

      Hapus
  5. Bismillaah. Assalaamu'alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

    Perkenalkan kami dari TafsirWeb.com

    Alhamdulillaah artikelnya enak dibaca, moga bermanfaat untuk kaum muslimin.

    Pada artikel sepertinya mengambil referensi dari website kami sebagaimana dituliskan pada artikel.

    Sayangnya, tidak ada link yang bisa di-klik ke website kami sebagai sumber referensi.

    Jika tidak memberatkan, kami berharap agar diberikan link menuju website kami dari artikel tersebut sebagai amanat ilmiah.

    Proses perubahan umumnya hanya butuh 2-3 menit saja, tidak memberatkan. Apakah hal tersebut memungkinkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah saya edit untuk memasulkan eksternal linknya.
      Terima kasih

      Hapus

Posting Komentar