header www.zulmiati.com

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Posting Komentar
 _Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

*_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

*_Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir_*

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

_Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda_

Kata  *masalah* gantilah dengan *tantangan*

Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*

Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.


Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.


*_Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya_*


Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.


 Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


*_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_*

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.


 Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.


Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.


FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.


FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.


FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.


Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.


Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*


 Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.


Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.


Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*


Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.


Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.


Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.


Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.


Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:


1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.


Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.


2. *Choose the Right Time*

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.


3. *Kaidah 7-38-55*

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.


Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. *Intensity of Eye Contact*

Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_


Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.


5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.


Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*


Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.


✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan senang hati. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku sambil cemberut pula.

c.  *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  *Fokus ke depan, bukan masa lalu*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.


g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. *Ganti perintah dengan pilihan*

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat



Salam Ibu Profesional,


/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_

_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_


_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_


_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_
[31/01, 04:48] Ummy Sayang: πŸ“πŸ“RESUME DISKUSIπŸ“πŸ“

Materi.            : Komunikasi Produktif
Hari, Tanggal : Senin, 23 Januari 2017
Fasilitator       : Diah Soehadi, Anna Andriana
Ketua Kelas    : Puji Utami
Koord. Bulanan : Nisa Yustisia

1. Evy, Salatiga.
Apakah kita harus membuat list kata2 yg akan disampaikan kpd anak? Krn trkadang asal ceplos. Misal kalimat apa yg hrus disampaikan kpd anak saat pulang sekolah. Jd nantinya akan banyak list kosa kata yg kita miliki.

πŸ“’ Mbak evi yang baik..tentang harus atau tidaknya, kembali pd sejauhmana hal tsb penting utk mbak nya. Pilihan harus, setelah kita memetakan pola komunikasi dan pilihan kata kita selama ini dg ananda. Bila dirasa ,selama ini kurang menghasilkan komunikasi yg produktif..bisa jd ' harus' dimulai dg listing kata2, yg akan mensupport ananda ,
Jadi silahkan di mulai mbak menchalange diri sendiri ttg do n dont nya kata2 utk ananda.
Semangattt...✅

2. Mayang, Salatiga
Saya punya persepsi yang berbeda dg suami bahwa anak yang lebih besar tidak selalu harus mengalah kepada anak yang lebih kecil tergantung situasi dan hak siapa.
Tapi kadang suami masih mempunyai persepsi kalau anak yang lebih besar lah yang harus mengalah..
Sehingga seringkali si adik lebih sering mengadu ke papa nya untuk mendapat kan perlindungan..
Dan si kakak merasa tidak mendapat keadilan..
Bagaimana saya harus menyikapinya?
Terimakasih..

πŸ“’ Mbak Mayang, setiap org memiliki frame of reference dan frame of experience masing2 sehingga sangatlah wajar jika pasangan kita memiliki pandangan dan pendapat yg berbeda mengenai sesuatu.

Yang diperlukan adalah bagaimana kita dan pasangan bisa saling membagikan pengetahuan tsb dari sudut pandang masing2 sehingga keduanya bisa saling memahami  dan bersama2 mencari solusi yg terbaik. Karena bagaimanapun juga anak2 sangat pintar memainkan situasi, jadi sebisa mungkin ortu satu suara dalam mensikapi suatu persoalan.

Cobalah untuk mempraktekkan kaidah2 komunikasi yang ada dalam materi komunikasi produktif hari ini untuk membantu efektivitas komunikasi mb mayang dg suami.
Kami tunggu sharingnya ya... 😘

Adapun untuk si Kakak, jadikan ini sebagai wahana belajar mengekspresikan diri, senangkah dia dengan situasi yg selalu mengalah? Kalau tidak senang apa yang ingin dilakukan kakak supaya lepas dari situasi tsb. ✅

3. Nisa, Salatiga.
Apakah keterbukaan dalam semua hal merupakan pola komunikasi yg baik dg pasangan? Dengan kata lain, komunikasi dg pasangan dikatakan tdk baik jika ada hal2 yg disembunyikan kpd pasangan

πŸ“’  Mbak nisa, sejatinya hidup tanpa ada yg kita sembunyikan, jujur ,tentu hidup sangat nikmat ya mbak. Dan sepertinya itu yg dicari setiap insan,keluarga,dan rumahtangga. Namun rasanya tak bnyk yg seberuntung itu. Dalam hal ini yg harus kita munculkan sikap bijaksana dari masing2 pihak, tentang hal seperti apa yang boleh disampaikan atau tidak. Dasar pemikirannya adalah kemaslahatan. Tidak semua hal yg kita ketahui,harus kita sampaikan. Kita saring,kita cerna,sejauhmana bila disampaikan akankah menjadi maslahat atau mudharat. Tapi bila mmg ada informasi yg harus disampaikan walaupun berpotensi mudharat, sebagaimana materi kita hari ini, persiapkan dg baik ke 5 metodenya.
Sebagai tambahan, ada 3 kebohongan yg diperbolehkan berdasarkan hadist Rosulallah SAW,
Berkata ummu kultsum r.a : aku  tidak pernah mendengar Rosulallah SAW memberikan rukshah pd ucapan manusia (berdusta) kecuali dlm 3 perkara yakni: perang,mendamaikan perselisihan antar manusia, ucapan suami istri ( H.R Bukhari Muslim )✅

4. Nurina Happy, Semarang.
Bagaimana kalau ternyata kemampuan berkomunikasi ini adalah salah satu dari 7bakat terlemah yang dimiliki. Bukankah akan butuh waktu 10000jam untuk memperbaikinya?

πŸ“’ Mbak nurina, bersyukurlah  apabila kita telah bisa mengenali kelemahan2 yg kita miliki, insyaaAllah sdh setengah jalan utk diperbaiki agar menjadi lebih baik. Bicara ttg 10.000 jam terbang, ada nasehat dari bu septi,
" kesungguhan dlm praktek" bukan hanya " sekedar praktek"
Dan praktek itu berarti ada tempatnya, ada masalahnya, ada ujiannya.
Maka prinsipnya menurut bu septi
Latih-percaya- kerjakan- tingkatkan- latihan lagi-percaya lagi- kerjakan lagi- tingkatkan lagi- dst.
Jadi mari bersiap utk selalu menambah jam terbang.✅

5. Puji, Pekalongan. Bagaimana cara berkomunikasi dengan anak usia 2.5 th yang mulai tantrum ketika memaksakan kehendaknya? Apalagi terdapat perbedaan pendapat antara ibu dan ayah menghadapi anak yang tantrum.

πŸ“’ Mb Puji yang baik, menurut pendapat saya pribadi, anak yg tantrum tidak akan bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Pengalaman saya dulu menghadapi anak yg tantrum, saya temani dia melepaskan emosinya sampai reda, setelah tenang baru saya mengambil posisi sejajar dan mulai ajak bicara pelan2.

Memang sulit jika kedua ortu tidak sepakat dalam menghadapi anak yg tantrum, karena secara naluriah anak akan memilih pihak yang menguntungkan bagi dirinya.
Saya pun sempat mengalami hal ini dg suami bbrp th yg lalu, saya adalah si emak tega, sementara suami adalah selimut yg hangat. Tapi dalam prakteknya anak lebih gampang saya kelola dibanding jika bersama ayahnya 😁

Kalo boleh saya berbagi saran, sementara belum tercapai kata sepakat, tentukan dulu mau pakai cara siapa nih, cara ayah atau bunda.
Sambil ortu terus berkomunikasi berdua mencari formula yg paling pas. ✅

6. Dwi, Salatiga
Bagaimana cara berkomunikasi yg baik dan efektif pada ABK (anak berkebutuhan khusus),  terutama down syndrome yg pada dasarnya mereka kesulitan dalam menyampaiakan kemauanya secara verbal dan tingkat pemahaman mereka jelas berbeda dg anak pada umumnya?
Kalo dari tempat terapinya sekaligus sekolahnya,  kata2 'tidak dan jangan'  boleh dipergunakan karena utk memberikan pemahaman yg jelas ini boleh ini tidak.

Mohon tips mb fasil bagaimana belajar menjadi ibu yg lemah lembut? Terkadang klo sedang meninggi intonasi suara ikutan meninggii 😭😒

πŸ“’ Mohon maaf saya belum punya pengalaman berkomunikasi dengan ABK jadi saya tidak berani memberikan saran atau jawaban.

kalo tips menjadi ibu yang lemah lembut.. hehehehe.. saya tipe ibu perkasa
Tapi yg saya pahami, jika suasana hati /mood kita sdg baik maka tidak ada satupun di dunia ini yg bisa merusaknya , jadi berusaha mencari cara supaya selalu ada di situasi tersebut.

Ibarat kita sedang jatuh cinta, maka semenjengkelkan apapun tingkah sang pujaan hati, kita mah lempeeeeng aja.

Ask: tipe perkasa itu seperti apa mbak?

πŸ“’ Saya itu kalo bicara nadanya keras mba.. intonasi tinggi , lebih paham megang kunci tang daripada masak , lebih suka ganti keran daripada dandan πŸ˜„

πŸ‘©πŸ» Andini: Keponakan saya difabel dia tuna rungu dan tuna wicara selama ini orang tuanya selalu mebiasakan tegas mana yg boleh dan tidak. Tapi ya begitu mba harus mau diulang lagi dan lagi pokoknya harus konsisten gitu mba.

Ibu dg anak berkebutuhan khusus memang harus ekstra tangguh dan sabar. Beliau harus sabar mengenali cara komunikasi anaknya misal keponakan ku ini dia awalnya hanya kenal bahasa isyarat sekarang dia mulai keluar suara sedikit2 karena ibunya telaten ajak omong walau dengan teriak2 keras per kata diulang2.

Saya banyak belajar karena gabung di rumah ramah rubella disana banyak orang tua dg anak berkebutuhan khusus yg saling menguatkan

πŸ‘©πŸ» Diah: Saya selalu kagum dengan ortu ABk luar biasa kesabaran dan ketangguhannya πŸ‘πŸΌπŸ‘πŸΌ

πŸ‘©πŸ» Anna : Betul mbak andini, semua kondisi..mengharuskan kita ,ibu, istri...utk sabar..sepwrtinya klise, tp justru itulah letak kekuatannya.
Untuk mbak dwi, semoga berbuah pahala dg kesabarannya kpd ananda.

πŸ‘©πŸ» Puji: Setuju. Ibu tangguh. InsyaAllah menjadi tiket menuju surga. Aamiin…

7. Puji, Pekalongan
Mba untuk masalah komunikasi dengan suami lagi yang berbeda cara penyampaian padahal sepemikiran itu cara mencairkannya gimana ya? Maklum beda jarak mba

~> Nah..sudah diidentifikasi berbeda cara penyampaian dg suami, artinya kita, harus kreatif mencari cara yg tepat utk menyampaikan, bisa dimulai dg  list waktu dan tempat , diksi atau pemilihan kata kata yg akan disampaikan, intonasi atau nada suara yg diatur sedemikian rupa. Intinya selalu di coba ,jgn patah semangat mbak..
Barangsiapa mencari pasti akan menemukan, demikian pepatah mengatakan...
Semangat mbak..✅
[31/01, 04:48] Ummy Sayang: Yuk, Kita samakan lagi Frame of Reference nya... πŸ™‹πŸ»

Kunci dari tantangan 10 hari ini adalah :
*Komitmen*
*Konsistensi*
*Mengamalkan ilmu*

Komitmen ➡ mengikuti program bunda sayang dari awal hingga akhir.

Konsisten ➡ menjalankan tantangan 10 hari secara berkelanjutan dan terus menerus, prinsipnya porsi kecil tapi sering

Mengamalkan ilmu ➡ mempraktekkan ilmu *setelah mendapatkan materi bunda sayang*. Bukan menuliskan praktek komunikasi yg sudah lama berlalu.
[31/01, 04:48] Ummy Sayang: FAQ Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif

❓Apakah tantangan 10 hari komprod ini harus dengan keluarga lengkap?

➡ _Tidak ada ketentuan yg mengatakan harus lengkap_

Full team
_buat anda yg sdh berkeluarga dan berada di satu lokasi, silakan praktek dg keluarga anda full team_

LDR
_Buat anda yg LDR bisa  membuat forum via online_

Single parent
_Bisa buat forum keluarga dengan anak anda_

Single
_Bisa tulis perubahan komunikasi anda dari hari ke hari dg diri sendiri, dengan teman/partner kerja_

❓Apakah harus dengan foto?

➡ _di aturan tertulis *boleh*_  _disertai foto, artinya_ *tidak harus*. _Yang utama adalah_
1.  _ini forum komunikasi ala keluargaku, mana forum komunikasi ala keluargamu_? _silakan tulis pengalaman membuat forum komunikasi kel anda_ *setiap hari*l

2. _perubahan apa saja yg anda lakukan dalam berkomunikasi hari ini_ ?

❓Apakah harus per hari, bolehkah sekaligus posting 10 hari?

➡ _ya harus ditulis per hari, krn kita akan belajar konsisten_

⛔ Tidak boleh posting sekaligus 10 hari.

❓Apakah boleh ditulis  di blog per harinya?

➡ _boleh, link tulisan di blog anda share via thread fb yg dibuat oleh petugas_

❓Utk family forum ini bentuk dan bahasannya bebas kan?

➡ ya bebas


❓Cerita ttg family forum-nya harus aktual trjadi di hari pelaporan, atau bisa menceritakan ttg family forum yg dulu pernah dilakukan?

➡.  _Tantangan ini adalah mempraktekkan ilmu, artinya harus "cerita hari ini" bukan "cerita dulu". Tidak harus selalu kesuksesan membuat forum atau berkomunikasi, boleh juga cerita kegagalan membuat forum dan berkomunikasi. Kalau cerita kegagalan di bagian akhir harus anda tulis, pelajaran yang anda dapatkan dari kegagalan tersebut_

Related Posts

Posting Komentar