header www.zulmiati.com

Yuk Bersinergi Menuju Zero Kusta, Penyakit Kusta Bisa Disembuhkan !

22 komentar
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Zero kusta

Penyakit Kusta, pertama kali mengetahui penyakit ini saat mata kuliah epidemiologi penyakit menular. Awalnya aku mengira penyakit kusta hanya ada di daerah yang pelosok, pedalaman dan terpencil. Ternyata hampir merata ada di seluruh Indonesia.

Bahkan Indonesia menempati peringkat ketiga dunia. Dan ketika bekerja di Puskesmas, aku kaget, ternyata masih ada kasus kusta di Kota kecilku.

Stigma dan diskriminasi terhadap penderita kusta nyata adanya. Edukasi sangat diperlukan agar semua pihak aware dengan penyakit kusta.

Alhamdulillah senang sekali saat mendapat informasi dari komunitas 1minggu1cerita bahwa akan ada talkshow tentang penyakit kusta.

Hari rabu, 24 November 2021 media jurnalis independen KBR berkolaborasi dengan NLR Indonesia mengadakan talkshow ruang publik KBR dengan tema "Bahu Membahu Untuk Indonesia Sehat Bebas Kusta".

Talkshow Kusta

Talkshow yang dipandu oleh Rizal Wijaya ini menghadirkan dua narasumber yaitu dr. Febrina Sugianto (Junior Technical Advisor NLR Indonesia) dan Eman Suherman, S.Sos ( Ketua TJSL PT DAHANA).

Masya Allah aku menjadi optimis untuk Indonesia bisa zero kusta jika semua pihak ikut ambil bagian dalam penanganan dan pemberantasan penyakit kusta.

Eh, sebenarnya apa dan bagaimana penyakit kusta itu?

Yuk Kenalan dengan Penyakit Kusta

Tak kenal maka tak sayang, begitu kata dr. Febrina pada talkshow tsb. Yuk kenalan dengan penyakit kusta ini agar kita bisa lebih aware dan ikut ambil bagian menuju zero kusta.

Penyakit kusta merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium leprae. Bakteri ini awalnya mengenai saraf tepi, lalu menyerang kulit, dan dapat mengenai organ lain seperti saluran napas bagian atas, mata, otot, dan tulang. Namun bakteri ini tidak mengenai susunan saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang.

Dalam istilah kedokteran, penyakit kusta dinamakan Morbus Hansen atau penyakit Hansen. Diambil dari nama penemu penyakit ini, yaitu Gerhard Henrik Armauer Hansen.

Keterlambatan pengobatan kusta, bisa menyebabkan penderita berisiko mengalami hilangnya sensibilitas, kelemahan otot, deformitas atau kerusakan pada tangan dan kaki, serta gangguan pada mata. Bahkan bisa sampai pada kecacatan yang menyebabkan disabilitas.

Gejala dan Tanda Penyakit Kusta

Penyakit kusta menyerupai penyakit kulit lainnya. Yaitu ditemukan adanya bercak di kulit, dapat datar atau meninggi, dapat kering atau mengkilap.
"Ciri khas kusta adalah baal atau mati rasa".

Kalau bercak penyakit kulit seperti panu menyebabkan gatal. Nah, bercak kusta ini sebaliknya, tidak ada rasa gatal ataupun rasa nyeri. Bercaknya jika disentuh mati rasa.

Penebalan kulit seringkali terlihat di daun telinga. Seperti dijelaskan diatas, karena penyakit ini mengenai saraf tepi, maka bisa disertai gejala sering kesemutan atau juga mati rasa di tangan dan kaki, kelemahan jari-jari atau tangan kaki, hingga jari kiting atau bengkok.

Selain itu, pada kusta dapat terjadi reaksi kusta, yaitu bercaknya semakin menebal kemerahan dan bertambah banyak dalam waktu cepat atau timbul benjolan nyeri di kulit.

Bakteri kusta sifatnya tahan asam, dan lebih suka hidup di lokasi yang dingin. Sehingga pada kulit umumnya banyak ditemukan di daun telinga, cuping hidung, tonjolan tulang pipi, alis, dan dagu. Kuman yang banyak pada penderita kusta dapat menyebabkan perubahan bentuk wajah.

Masa inkubasi kusta ini bisa 40 hari hingga 40 tahun. Gejala baru muncul atau terlihat setelah bertahun-tahun kemudian dari kontak.

Penularan Kusta

Penyakit kusta dapat menular karena merupakan penyakit infeksi.
"Kusta merupakan penyakit menular tapi tidak mudah menular"
Penularan kusta perlu kontak erat yang lama. Dari 100 orang yang kontak dengan penderita kusta, hanya 5% atau 5 orang yang ada kemungkinan terinfeksi. Dan dari 5% orang ini 70%nya dapat sembuh sendiri, dan pada akhirnya hanya 30% yang bergejala.

Sederhananya, jika ada 100 orang yang kontak, kemungkinan hanya 1-2 orang saja yang akhirnya bergejala kusta.

Bakteri kusta menular pada manusia melalui kontak langsung dengan penderita dan pernafasan (droplet). Sederhananya, penularan terjadi jika bakteri yang utuh keluar dari tubuh penderita melalui batuk atau bersin atau saat bersentuhan dan masuk ke dalam tubuh orang yang sehat.

Jadi, gangguan kesehatan ini tidak menular dengan cara kontak langsung biasa, seperti berjabat tangan atau menduduki tempat yang sebelumnya pernah diduduki penderita.

Kusta juga bukan penyakit keturunun.
Kusta juga tidak ditularkan oleh ibu hamil kepada janin yang dikandungnya, serta tidak menular melalui hubungan seksual.
"Kabar baiknya, penderita kusta yang sudah mendapat pengobatan tidak lagi menular".

Kapan Perlu Memeriksakan Diri?

Kewaspadaaan dini perlu dilakukan agar tidak terjadi kecacatan. Segera periksa ke Puskesmas terdekat jika mengalami :

  1. Memiliki bercak kulit yang mati rasa, tidak ada gatal, tidak ada nyeri,
  2. Bercak kulit sudah diobati tapi tidak kunjung sembuh
  3. Memgalami gejala saraf yang telah disebutkan sebelumnya.

Pengobatan kusta menggunakan kombinasi beberapa macam obat atau disebut multidrug therapy. Hal ini dilakukan agar lebih efektif dan menghindari resistensi atau kebal obat.

Obat tersedia dalam bentuk blister atau papan terdiri atas 3 macam obat, dapat diambil pasien setiap bulannya secara GRATIS di puskesmas atau rumah sakit yang menyediakan.

Pengobatan kusta untuk tipe pausibasiler selama 6-9 bulan, sementara yang multibasiler selama 12-18 bulan. Ketika ada reaksi kusta, maka akan diberikan obat tambahan.

Pengobatan kusta yang lama ini mengharuskan kerjasama semua pihak untuk ikut mensupport penderita agar bisa menuntaskan pengobatan.

Pencegahan Penyakit Kusta

Sampai saat ini vaksin untuk kusta belum ada. Sementara ini, pencegahan untuk kontak erat dengan penderita diberikan obat profilaksis.

Untuk pencegahan secara umum yang paling efisien adalah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti :
  1. Biasakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
  2. Mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang. Karena orang dengan imun tubuh rendah lebih rentan terkena kusta.
  3. Pencahayaan dan ventilasi yang cukup di rumah. Bakteri kusta mati pada suhu tinggi.
  4. Penggunaan handuk terpisah antara anggota keluarga di rumah.
  5. Menjaga daya tahan tubuh dengan berolahraga.
  6. Hindari bepergian ke daerah endemis kusta.

Sinergi Pemberantasan Kusta

Zero kusta menjadi hal yang mudah dicapai jika semua pihak saling bersinergi bergerak bersama. Baik dari Organisasi Pemerintah, masyarakat, maupun swasta.

Kementerian kesehatan merumuskan penanggulangan kusta dalam PMK nomor 11 Tahun 2019.

Sangat senang, saat mendengar penjelasan dari Bapak Eman Suherman, S.Sos tentang kegiatan CSR PT Dahana yang sangat peduli dengan kesehatan. Aku sangat apresiatif dengan cara penjaringan kusta melalui pengobatan massal.

Dan sangat senang juga mendengar kegiatan NLR Indonesia. NLR Indonesia sebagai organisasi non pemerintah merumuskan strategi program 3 zero untuk memberantas kusta, yaitu :
  1. Zero transmisi, menghentikan penularan kusta
  2. Zero disabilitas, penemuan kusta sedini mungkin, untuk menekan keterlambatan diagnosis dan pengobatan yang bisa menyebabkan kecacatan
  3. Zero Eksklusi, mengupayakan inklusivitas dan pengurangan diskrimasi dan stigma
"Kusta ini ga akan tuntas kalo masih banyak stigma. Stigma ini ga akan tuntas kalo masih banyak orang ga tau apa itu kusta". dr. Febrina
Faktanya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui dan memahami penyakit kusta dengan baik. Hal ini menyebabkan masih adanya stigma negatif dan diskriminasi di masyarakat terhadap penyakit kusta. Kesadaran masyarakat yang kurang terhadap penyakit ini, menjadikannya termasuk ke dalam kelompok penyakit tropis terabaikan (neglected tropical disease).

Dengan semakin banyak yang menyebarluaskan informasi literasi mengenai kusta yang benar, semoga semakin banyak yang aware terhadap penyakit ini. Semoga target zero kusta di tahun 2024 bisa terwujud.

Related Posts

22 komentar

  1. Wah, pencerahan banget ini. Tadinya kaka denger ada yg kena kusta, serem. Jangan deket-deket. Jangan dijauhi, tapi kita suport penderita agar mendapatkan pengobatan yg tuntas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener kak, penderita harus mendapat support penuh dari berbagai pihak..

      Hapus
  2. Jadi tidak perlu menjauhi orang-orang berpenyakit kusta dan lebih baik support mereka. Yakinkan mereka. Edukasi mereka agar mereka tidak minder. Semoga Indonesia bisa Zero Kusta dengan edukasi dari semua lini masyarakat

    BalasHapus
  3. Jadi tahu tentang penyakit kusta

    BalasHapus
  4. Kenalan sama penyakitnya biar nggak panik dan overthinking ya mbak... mantap

    BalasHapus
  5. Sosialisasi di masyarakat juga perlu ya untuk menekan jumlah penderita kusta. Agar masyarakat lebih aware dan mau membantu para penyintas

    BalasHapus
  6. Trims info pentingnya mbak.. sy jadi tahu tentang penyakit ini.

    BalasHapus
  7. Wah aku jadi banyak tahu tentang penyakit kusta ini, ternyata sebegitu harus aware nya sama kusta. Ini acara bagus dan mengedukasi

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah nemu ilmu baru. Terima kasih mbak, jadi tahu tentang penyakit kusta

    BalasHapus
  9. Sebuah pengetahuan. Agar tidak muncul stigma yang salah. Makasih mb

    BalasHapus
  10. Sangat informatif ulasannya mba ❤ Saya jadi semakin tahu banyak tentang penyakit kusta berikut gejala dan tindakan preventif agar tidak terjangkit penyakit tersebut. Terimakasih informasinya mba Zulmi 😊🙏

    BalasHapus
  11. MasyaAlloh bermanfaat sekali informasinya mbak, saya baru sekarang tahu informasi kusta selengkap ini

    Semoga kita semua bisa melakukan tindak pencegahan yang tepat agar tidak terserang penyakit ini. Aamiin

    BalasHapus
  12. bismillah.. semoga tahun 2024 zero penyakit kusta

    BalasHapus
  13. Wah, ilmu banget nih, biasa yang tidak ngeh dengan ini, jadi harus selalu menjaga kesehatan

    BalasHapus
  14. Di masyarakat, umumnya menganggap kalau kusta penyakit turunan dab gak bisa sembuh makasih infonya, Mbak🙏🏻

    BalasHapus
  15. Iya mba .... ada stigma negatif tentang penderita kusta. Edukasi kepada masyarakat melalui tulisan seperti ini amat membantu.

    BalasHapus
  16. Dulu, kusta ibi mengerikan banget ya. Alhamdulillah ilmu kedokteran terus berkembang. Mudah-mudahan kitaa dijauhkan dari penyakit itu

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah pengetahuan yang terus berkembang bisa membantu mengatasi penyakit-penyakit kayak gini ya.

    BalasHapus
  18. gejalanya cuma mirip penyakit kulit seperti pada umumnya ya mba, nggak nyangka jika itu adalah gelaja kusta. Memang kita perlu lebih mengenal dan lebih peduli dengan apa yang terjadi dengan tubuh kita. Jadi jika ada sesuatu yang nggak beres bisa segera diperiksakan.

    BalasHapus
  19. Makaaih ilmunya mbak. Mirip TBC ya cara penularan dan terapi obatnya...

    BalasHapus
  20. Waaaa ma syaa Allah mbaak, dapet banyak info banget mbaca ulasan di atas. Meubah stigma memang butuh effort sekali ya mbak

    BalasHapus
  21. Wah menarik banget infonya Mbak. Memang kita harus tau dulu apa itu kusta agar dapat mengubah stigma kita terhadap kusta dan penderita kusta.

    BalasHapus

Posting Komentar