header www.zulmiati.com

Cerita Pengalaman Haji

Posting Komentar

Mendengar cerita pengalaman perjalanan haji selalu menggetarkan hati. Alhamdulillah pekan kemarin berkesempatam silaturahmi ke rumah adik ipar yang baru pulang dari haji. Selalu ada kenangan indah dan hikmah dari perjalanan ibadah haji. Ijinkan saya bercerita kisah pengalaman berhaji ya kawans. 

Keinginan Berhaji

HAJI, hampir semua umat muslim pasti ingin sekali menunaikan ibadah haji. Menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Termasuk saya! Dulu saat masih kuliah, saya menuliskan 100 hal yang ingin saya capai, salah satunya ibadah haji. 

Saya menuliskan bahwa saya ingin menunaikan ibadah haji bersama keluarga. Pergi haji bersama suami, orang tua dan mertua. Padahal saat itu belum mengetahui siapa calon suami dan mertua,hehe.

Tapi saya ingin memberangkatkan orang tua dan mertua untuk ibadah haji. Saat itu, sebagai mahasiswi yang suka hitung menghitung. Saya mencoba mengkalkulasi dengan perhitungan manusia kapan saya bisa berangkat haji. 

Saya membuat estimasi ketika saya lulus, lalu bekerja, kira-kira dapat gaji sekian. Maka saya mencoba membuat plot kebutuhan. Porsentase untuk keperluan harian, membantu orang tua dan menabung haji. 

Dari kalkulasi hitungan saya itu, saya membutuhkan waktu sangat lama untuk  bisa berangkat haji dan memberangkatkan haji orang tua. Kalau tidak salah saya mengkalkulasi pendapatan sekitar 5-10 juta rupiah. Pede sekali saya saat itu bisa mendapat gaji segitu,hehe. Tapi dari gaji segitu pun, ketika saya break down ternyata cukup sulit untuk bisa segera pergi haji bersama keluarga.

Tapi saya yakin Allah SWT Maha Kaya, pasti ada jalan dan rencana-Nya lebih indah. Yakin bahwa Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Membuat saya tetap optimis dan selalu husnuzhon pada Allah dalam do’a dan rasa harap.
 
Hadist Nabi

Sampai tiba pada masa saya menikah, keinginan dan cita untuk menunaikan rukun Islam kelima tetap membara. Apalagi mendengar bahwa antrian semakin lama, saat itu di tahun 2010-2011 antrian haji sudah 5 - 6 tahun. 

Mengingat usia orang tua dan mertua yang sudah lanjut. Maka atas bimbingan Allah SWT saya semakin sering mengambil topik haji untuk didiskusikan dengan suami. 

Dan Alhamdulillah gayung bersambut, biizdnillah suami setuju untuk daftar haji. Saat itu tabungan kami belum mencukupi untuk mendaftar 6 porsi ibadah haji (saya, suami, orang tua dan mertua). 

Akhirnya kami survey ke beberapa Bank Syariah mengenai metode talangan haji. Dari beberapa bank syariah yang kami survey, kami sreg dengan sistem talangan haji di Bank Muamalat. 

Sistem talangan haji di Muamalat paling jelas akadnya menurut kami. Ada biaya administrasi yang harus dibayar di awal dan dana talangan haji yang bisa dikembalikan dengan tempo 1 tahun. Metode penembalian, boleh mau diangsur tiap bulan atau ketika jatuh tempo langsung. Yang penting tidak melebihi waktu jatuh tempo. Apabila melebihi jangka waktu tempo, maka akan dikenai biaya administrasi lagi. 

Alhamdulillah biizdnillah, bulan Juni 2011 Allah mampukan kami daftar porsi haji.

Ah mudah saja kan kamu PNS, suami kerjanya mapan. Sungguh bukan karena itu kami bisa daftar haji. Biizdnillah, atas karunia dan rahmat-Nya lah kami bisa daftar haji untuk berenam sekaligus.

Karena jika bukan atas izin-Nya, secara kalkulasi manusia itu sulit tercapai. Saat itu saya masih CPNS, dengan gaji masih 80%. Untuk bayar PP kereta suami Jakarta - Pekalongan tiap pekan saja kurang. 

Tabungan? Seperti yang saya sampaikan di atas, tabungan kami masih minim. Saat itu belum genap 1 tahun pernikahan kami. Tabungan suami sudah dipergunakan untuk keperluan pernikahan kami.

Saat memutuskan untuk menikah, kami bersepakat bahwa gelaran pernikahan kami sebisa mungkin dari dana pribadi kami. Sebisa mungkin tidak merepotkan keuangan orang tua. Sudah lebih dari cukup mereka membiayai kami dari kecil hingga kuliah.

Nah, saat menikah posisi saya baru lulus kuliah dan belum bekerja. Otomatis semua dana pernikahan dari suami. Tabungan kami masih minim saat itu.

Ibu mertua sempat ragu dengan keputusan kami mendaftar haji. Menurut pandangan beliau kami belum mapan. Iya, bener si ya, karena saat itu kami belum mempunyai rumah sendiri. 

Saya menumpang tinggal di rumah mertua, suami ngontrak di rumah bedeng Jakarta.hehe. Qadarullah saat itu kami juga belum dikaruniai anak.

Ah jadi ingat status fufuelmat, selebgram parenting yang tahun ini berkesempatan pergi haji furoda, tentang perkataan suaminya :

Allah tidak akan marah, kalau kita meninggal belum punya rumah. 
Allah tidak akan kecewa, kalau kita meninggal tidak punya kendaraan mewah.  
Allah pun tidak akan murka, kalau seandainya pendidikan formal dan pekerjaan kita,sangat sederhana.
Namun, apa jadinya kalau kita dan anak kita, meninggal tanpa benar-benar memperjuangkan setiap rukun-Nya?
Sedangkan, kesempatan untuk terus berprogres selama di dunia, senantiasa Dia berikan dari banyak serak hikmah petunjuk-Nya. @canunkamil

Ibu mertua sempat menanyakan, apa tidak lebih baik untuk membeli rumah dulu?dsb. Kami meyakinkan bahwa Allah Maha Kaya dan Harta yang dibelanjakan di jalan-Nya insya Allah lebih berkah dan bermanfaat untuk dunia akhirat.

Karunia dan Nikmat Allah SWT berlipat setelah daftar Haji

Mashaa Allah tidak pakai tapi dan nanti Allah langsung membalas berlipat - lipat Niat Kami berhaji. Padahal belum berangkat haji, tapi Allah sudah melipatgandakan banyak kenikmatan dan karunia pada kami. 

Saya jadi semakin mentadabburi QS Al. Baqarah ayat 245.

“Siapakah yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya kamu dikembalikan" 

Saya mencoba merefleksikan betapa banyaknya nikmat Allah SWT setelah kami daftar haji. Nikmat yang bisa saya tulis cuma sedikit, yang tidak bisa saya tulis sungguh sangat amat banyak.

1. Allah karuniakan amanah anak.

Setelah daftar haji di bulan Juni 2011. Allah karuniakan titipan amanah-Nya, bulan Agustus 2011 saya positif hamil. Dan pada tanggal 11 Maret 2012 anak pertama kami lahir.

2. Kemudahan pelunasan dana talangan haji

Dan tiga bulan berikutnya adalah waktu pelunasan dana talangan. Lagi-lagi atas pertolongan-Nya lah kami bisa melunasinya. Saat itu dana tabungan kami belum cukup untuk pelunasan.

Kami salah strategi di awal, tidak satu per satu porsi kami lunasi. Tapi kami membagi rata angsuran tiap bulan. Kami baru sadar saat sudah beberapa bulan mendekati jatuh tempo. Baru kami ganti strategi dengan melunasi satu per satu.

Dan baru separuh bisa kami lunasi. Atas pertolongan-Nya, kami dibantu customer service Bank Muamalat. Alhamdulillah CS tsb yang melayani saya saat daftar. Dan ternyata kenal dengan adik ipar saya. Kami dibantu subtitusi dana di tabungan porsi haji.

Ada sedikit kelebihan dana di tabungan haji yang sudah pelunasan. Kalau di syaratnya kan baru boleh diambil setelah pergi haji. Tapi akhirnya kami dibantu untuk bisa diambil dan di share ke tabungan porsi yang belum lunas. 

Alhamdulilllah atas izin dan pertolongan Allah SWT, akhirnya semua dana talangan haji bisa kami kembalikan tepat waktu 1 tahun sesuai jatuh tempo.

3.  Allah karunikan tempat tinggal

Menurut perhitungan manusia bagaimana mungkin untuk pelunasan haji saja kemarin ngos-ngosan. Tapi kalau Allah SWT berkehendak, semuanya menjadi sangat mungkin.

Rezeki dari Allah SWT bisa datang darimana saja yang tidak disangka-sangka. Alhamdulillah akhir tahun 2012  Allah mampukan kami bisa membeli rumah secara cash walau bukan rumah baru.

4. Allah SWT mampukan kami umroh

Salah satu rezeki adalah mempunyai teman sholeh-sholehah, benar tidak kawans?

Salah satu teman suami itu setiap ramadan umroh, full 30 hari di Mekah, mashaa Allah.

Dan itu menjadi salah satu motivasi kami untuk menyegerakan menjadi tamu-Nya. Bukan karena tidak sabar menunggu antrian haji. Tapi rindu itu sudah membuncah. 

Alhamdulillah ramadan tahun 2015 Allah SWT ijinkan dan mampukan pergi umroh. Awal ramadhan 2015 orang tua saya berangkat umroh lebih dahulu, dan akhir ramadan sampai syawal bapak ibu mertua dan suami yang berangkat umroh. 

Mereka bergantian berangkat umrohnya, untuk bergantian menjaga saya dan anak - anak. Saat itu saya masih menyusui anak kedua, jadi tidak bisa ikut umroh.

Dan alhamdulillah di Ramadan tahun 2016 saya dan suami bisa berangkat umroh bersama. Maha Besar Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga bagi keluarga kami.

Kawans, menuliskan ini tidak bermaksud riya atau sombong. Semoga Allah menjaga hati kami, tidak ada yang patut disombongkan. Semuanya terjadi karena kehendak, kuasa dan karunia Allah SWT semata. 

Merefleksikan ini sebagai rasa syukur kami atas betapa banyaknya karunia dan rahmat-Nya. Dan semoga ada hikmah dan hal baik yang bisa dipetik dari membaca cerita ini.

Cerita Pengalaman Perjalanan Ibadah Haji

Memasuki tahun 2017 Ibu Mertua mulai sering bertanya kira - kira kita kapan berangkat hajinya. Soalnya banyak teman beliau yang daftar di tahun 2011 masuk dalam daftar jamaah haji tahun 2017. Sampai saya datang ke Kemenag untuk bertanya,,hehehe Dan ternyata kami masuk di tahun 2018.

Kemudian di tahun 2017 itu Allah SWT punya rencana indah lagi, saya hamil anak ketiga. Orang tua dan mertua antara senang dan bingung, "wong tahun ngarep meh haji kok meteng, terus bocahe ngko ditinggal sek cilik piye?". 

Kawans tahu artinya tidak?,hehehe Kurang lebihnya " Tahun depan mau berangkat haji, kok malah hamil, nanti anaknya masih kecil ditinggal bagaimana?"

Lagi - lagi kami hanya berpasrah dan berprasangka baik pada rencana-Nya. Pastinya kepikiran juga, meninggalkan 2 balita dan 1 bayi. Tapi kembali meluruskan niat dan hati untuk melakukan ikhtiar terbaik mendekat pada-Nya.

Memohon perlindungan dan penjagaan-Nya. Bahwa anak - anak adalah titipan-Nya dan sebaik - baik penjaga dan penolong hanya Allah SWT semata.

Dan benar saja, tahun 2018 kami dipanggil menjadi tamu-Nya, menyempurnakan rukun Islam kelima. Haru biru senang dan bahagia sekali akhirnya penantian kami segera menjadi kenyataan.



Related Posts

Posting Komentar